Mastantuono Berkata: Yamal Lebih Baik Lagi dari Sebelum. Dalam dunia sepak bola yang penuh dengan talenta muda, perbandingan antar wonderkid sering jadi bahan hangat diskusi. Terbaru, Franco Mastantuono, bintang muda Real Madrid berusia 18 tahun yang baru bergabung dari River Plate, angkat bicara soal rivalnya di Barcelona, Lamine Yamal. Dalam wawancara eksklusif di acara El Larguero Cadena SER pada 18 November 2025, Mastantuono tegas bilang: “Sekarang, Lamine lebih baik. Dia menunjukkan level luar biasa, sudah terbukti, dan sedang dalam performa yang menakjubkan.” Pernyataan ini datang di tengah adaptasi Mastantuono di Madrid, di mana ia masih pulih dari cedera pubalgia—sama seperti yang dialami Yamal akhir-akhir ini. Bagi pengamat, ini bukan cuma pujian, tapi pengakuan atas kemajuan Yamal yang kian matang di usia 18 tahun. Apa konteks di balik kata-kata Mastantuono, dan bagaimana ini memengaruhi rivalitas El Clasico masa depan? Mari kita bedah lebih dalam.
Latar Belakang Franco Mastantuono dan Lamine Yamal: Dua Wonderkid yang Jadi Sorotan Eropa
Franco Mastantuono dan Lamine Yamal mewakili generasi emas sepak bola Eropa-Spanyol. Mastantuono, lahir di Azul Argentina pada 2007, meledak di River Plate dengan 10 gol dan 8 assist di liga domestik sebelum transfer €45 juta ke Madrid musim panas 2025. Debutnya di La Liga Agustus lalu langsung bikin heboh: gol pertamanya lawan Levante di kemenangan 4-1, meski sempat absen dua bulan karena pubalgia. Cedera ini—yang juga gejala pada Yamal dan Nico Williams—bikin adaptasinya tertunda, tapi ia sudah kembali latihan dan diprediksi debut penuh lawan Elche akhir pekan ini.
Sementara itu, Yamal, lahir 2007 di Barcelona dari keluarga Maroko-Guinea Ekuatorial, sudah jadi pilar utama Hansi Flick. Musim ini, ia kontribusi 5 gol dan 7 assist dari 13 laga La Liga dan UCL, termasuk gol penalti krusial di Euro 2024 yang bawa Spanyol juara. Yamal finis runner-up Ballon d’Or 2025 di belakak Dembélé, dan kontraknya diperpanjang sampai 2031 dengan klausul €1 miliar. Perbandingan keduanya muncul karena keduanya kidal, kreatif di sayap kanan, dan lahir di tahun yang sama—mirip rivalitas Messi-Ronaldo, tapi versi muda. Wawancara Mastantuono ini jadi momen langka di mana ia tak menghindar, malah beri pujian tulus.
Pernyataan Mastantuono: Pujian yang Santai tapi Bermakna Untuk Yamal
Di El Larguero, Mastantuono ditanya langsung: “Siapa lebih baik, kamu atau Lamine?” Jawabannya lugas tapi rendah hati: “Sekarang, Lamine. Dia sedang di level luar biasa, sudah terbukti, dan dalam performa menakjubkan. Saya baru tiba di Madrid, sedang adaptasi, semoga cepat dan bisa ikuti ritme Eropa serta Madrid. Harapannya, ini cerita panjang penuh laga seperti yang terakhir kami lihat, yang luar biasa.” Ia juga bilang tak suka perbandingan, tapi senang punya rival sekaliber Lamine dari Barcelona—ini bisa definisikan sepak bola Spanyol bertahun-tahun.
Kata-kata ini viral di X, dengan ribuan repost dari fans kedua klub. Mastantuono bahkan sebut Lamine “saingan bagus dari Barcelona, Spanyol”—sinyal rivalitas sehat, bukan permusuhan. Ini kontras dengan hype awal transfernya, di mana fans Madrid label ia “anti-Yamal” karena gaya bermain mirip tapi lebih “killer” di area penalti. Mastantuono juga cerita soal cedera pubalgia: “Saya kerja keras buat pulih, sudah hampir siap. Cedera ini umum di usia kami, tapi kami kuat.” Pujiannya ke Yamal, yang juga absen dua minggu karena cedera sama, tunjukkan solidaritas antar pemain muda.
Dampak: Rivalitas Sehat untuk El Clasico Baru
Pernyataan Mastantuono datang pasca Ballon d’Or di mana Yamal runner-up, dan Clásico Oktober lalu yang berakhir 2-1 buat Madrid—tapi Yamal absen karena cedera. Ini bikin diskusi panas: apakah Yamal sudah unggul, atau Mastantuono bakal catch up? Di Madrid, Xabi Alonso puji adaptasi Mastantuono: “Ia spesial, tapi butuh waktu. Pujiannya ke Yamal tunjukkan mentalitas juara.” Sementara di Barca, Flick bilang Yamal “pulih dan lebih kuat”—ia kembali starter lawan Sociedad akhir pekan, cetak assist.
Rivalitas ini potensial jadi era baru El Clasico: Yamal-Mastantuono seperti MSN vs BBC dulu. Mastantuono sudah cetak gol debut, tapi Yamal punya 778 menit di La Liga musim ini vs 200 milik Mastantuono. Analis seperti Guillem Balague bilang: “Mastantuono realistis; Yamal lebih matang karena La Masia dari kecil. Tapi Argentina punya DNA juara.” Dampaknya positif: tingkatkan minat UCL, dengan prediksi Clásico Maret 2026 jadi pesta gol muda.
Kesimpulan
Ucapan Franco Mastantuono bahwa Lamine “lebih baik lagi dari sebelum” bukan pengakuan kalah, tapi penghargaan atas kemajuan rivalnya—dan sinyal awal cerita panjang di La Liga. Di usia 18 tahun, keduanya sudah punya beban besar, tapi sikap rendah hati Mastantuono bikin rivalitas ini sehat dan menarik. Buat fans, ini undangan nikmati perjalanan: Yamal lagi puncak, Mastantuono sedang naik. Di akhir 2025, saat keduanya pulih dari cedera sama, El Clasico masa depan terasa lebih cerah. Siapa tahu, suatu hari pujian ini balik—tapi sekarang, Yamal memang satu langkah di depan.